Selasa, 07 Juni 2016

PUASA RAMADHAN



V
الحمد لله الذي جعل رمضان علينا بالصيام ۞ وأنزل فيه القرأن هدًى ورحمة ونورًا من الظلام ۞ أشهد أن لا إله الا الله وحده لا شريك له ، الملك القدوس السلام ۞ وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوث الى سائر الامم ۞ اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا وحبيبنا وشفيعنا ومولانا محمد خير الانام ۞ وعلى اله وصحبه مدى الليالي والأيام ۞ أما بعد ، قال الله تعالى وهو احكم الحاكمين  :
يَآ اَ   يُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ۝ ﴿البقرة : ١٨٣﴾
﴿ روى عن سعيد بن المسيب عن سلمان الفارسي رضى الله تعالى عنه قال : خطبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم اخر يوم من شعبان فقال : ايها الناس إنه قد اظلكم شهر عظيم مبارك ١- شهر فيه ليلة القدر، وهي خير من الف شهر ٢– شهر فرض الله صيامه  ٣- وجعل قيام ليله تطوّعا فمن تطوع فيه بخصلة من الخير كان كمن ادى فريضة فيما سواه ، ومن ادى فريضة فيه كمن ادى سبعين فريضة فيما سواه ٤– وهو شهر الصبر والصبر ثوابه الجنة ٥ - وهو شهر المواساة ٦- و شهر يزاد فيه رزق المؤمن ٥– من فطر فيه صائما كان له عتق رقبة ومغفرة لذنوبه ( قلنا يا رسول الله ليس كلنا يجد ما يفطّر به الصائم ) قال يعطى الله هذه الثواب لمن يفطربه صائمًا على مذ قة لبن او تمرة او شربة ماء ﴾
I.     Puasa ialah      :
Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari
II.     Hukum             :
Puasa Ramadhan hukumnya wajib bagi setiap ummat Islam yang sudah mukallaf kecuali sedang sakit, bepergian jauh (+ 82 km) atau orang yang sudah lanjut usia
Puasa Ramadhan mulai disyariatkan / diwajibkan bagi nabi Muhammad SAW dan ummatnya pada bulan Sya’ban tahun 2 H. sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat : 183 – 187
III.     Syarat-syarat sah puasa :
1.     Beragama Islam
2.     Berakal sehat ( tidak gila, ayan, mabuk dsb )
3.     Suci dari haidh, nifas dan semacamnya
4.     Mengetahui bahwa hari yang digunakan untuk berpuasa bukanlah hari-hari yang diharamkan yaitu :
5.     Hari yang diragukan (yaumusy syak) yaitu setelah tanggal 29 Sya’ban sebelum adanya pengumuman rukyat
6.     Tanggal 1 Syawwal (Idul Fitri)
7.     Tanggal 10 – 13 Dzul Hijjah (Idul Adh-ha dan Tasyriq)
IV.     Syarat-syarat wajib puasa :
1.     Beragama Islam
2.     Mukalllaf (telah baligh dan berakal sehat)
3.     Mampu menjalankannya
4.     Sehat, tidak sedang sakit
5.     Tidak sedang bepergian, kecuali bagi orang yang selalu menempuh perjalanan terus menerus karena baginya tetap wajib menjalankan puasa dan tidak ada rukhshoh (keringanan) untuk berbuka 

V.    Rukun-rukun puasa :
1.      Niat Puasa
Niat harus dilakukan setiap malam bulan Ramadhan sebelum datang waktu fajar kecuali puasa sunnah,
Niat Puasa Ramadhan yang sempurna :
نَوَيْتُ   صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَآءِ فَرْضِ شَهْرِرَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ   
اِيْمَانًا وَاحْتِساِبًا   لِلّٰهِ تَعَالىَ      ۝
NAWAITU SHOUMA GHODIN AN ADAA-I FARDHI SYAHRI ROMADHOONI HAADZIHIS SANATI IMAANAN WAHTISAABAN LILLAAHI TA’ALA
Saya niat berpuasa esok hari untuk menjalankan fardhu bulan Ramadhan tahun ini dengan penuh keimanan dan keikhlasan karena Allah ta’aalaa

Keterangan :
Untuk mengantisipasi adanya kelupaan niat berpuasa Ramadhan pada setiap malam harinya, kita diperbolehkan mengikuti Madzhab Maliki yang memper-bolehkan niat puasa Ramadhan “Cukup satu kali niat untuk satu bulan” . Kalimat niat puasa sebulan penuh :
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَآءِ فَرْضِ جَمِيْعِ اَيَّامِ شَهْرِرَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ 
اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا   لِلّٰهِ تَعَالىَ   ۝
NAWAITU SHOUMA GHODIN ‘AN ADAA-I FARDHI JAMII’I AYYAAMI
SYAHRI ROMADHOONI HAADZIHIS SANATI IMAANAN WAHTISAABAN
LILLAAHI TA’ALA
Saya niat berpuasa besuk untuk menjalankan fardhu semua hari-hari bulan Ramadhan tahun ini dengan penuh keimanan dan keikhlasan karena Allah ta’aalaa

Perhatian :
Pada saat berniat puasa Ramadhan sekali untuk sebulan penuh, diwajibkan pula berniat mengikuti Madzhab yang memperbolehkannya (Imam Malik) dan tidak boleh asal berniat tanpa mengikuti Imam yang memperbolehkannya

2.     Meninggalkan hal-hal yang dapat membatalkan puasa dalam keadaan sadar, tidak dipaksa dan bukan karena tidak megetahui yang tidak beralasan (tidak tahunya karena Udzur) misalnya penduduk yang tinggalnya disebuah pulau yang sangat jauh dari Ulama’ (orang yang tahu tentang hukum-hukum puasa)
3.     Orang yang menjalankan Puasa (Pelaku Puasa)

 VI. Hal-hal yang membatalkan puasa :
1.     Masuknya segala sesuatu dengan sengaja kedalam rongga badan
Adapun masuknya sesuatu melaului pori-pori kulit badan tidak membatal-kan puasa, seperti masuknya air karena berendam, mengoleskan obat-obatan semacam balsem, suntik dan sebagainya
2.     Muntah-muntah dengan sengaja
3.     Jima’ (bersetubuh)
4.     Mengeluarkan spirma karena sentuhan kulit
5.     Haidh atau nifas
6.     Gila, ayan, mabuk teler dan sebagainya
7.     Murtad (keluar dari agama Islam) meskipun hanya sebentar atau hanya sebatas niat saja  untuk pindah dari agama Islam

 VII. Orang-orang yang diperbolehkan berbuka (tidak berpuasa) dibulan Ramadhan :
1.    Wajib mengqodho’ puasanya serta membayar Fidyah

a.     Orang yang berbuka karena mengkhawatirkan orang lain seperti : untuk menyelamatkan jiwa orang lain yang nyaris tenggelam, seorang ibu hamil atau menyusui yang berbuka karena mengkhawatirkan kesehatan janin atau anaknya
b.     Karena menunda-nunda Qodho’ puasa Ramadhan tanpa adanya udzur Syar’i hingga datang lagi bulan Ramadhan berikutnya. Setiap melewati satu kali bulan Ramadhan maka ia wajib menambah satu fidyah ( 1 mud / 6 0ns ) beserta mengqodho’ puasa sesuai bilangan puasa yang ditinggalkannya

Misalnya :
Pada Ramadhan tahun 1420 H. Ahmad tidak berpuasa selama 5 hari sampai dengan Ramadhan tahun 1430 H. Ahmad belum juga pernah mengqodho’ puasanya, padahal sebenarnya ia sudah mampu jika ia mau mengerjakanya, maka setelah Ramadhan ini ia wajib :

a.     Mengqodho’ puasanya 5 hari dan
b.     Membayar Fidyah 5 Mud x 10 Ramadhan = 50 mud / + 30 kg beras
2.    Hanya wajib mengqodho’ puasa saja yaitu :
a.     Orang-orang yang batal puasanya di bulan Ramadhan serta belum datang bulan Ramadhan berikutnya
b.     Seorang ibu hamil atau menyusui yang berbuka puasa karena meng-khawatirkan dirinya sendiri dan juga anaknya serta tidak di tunda-tunda hingga datang bulan Ramadhan berikutnya
3.    Hanya wajib mengeluarkan Fidyah saja :
Seperti orang yang telah lanjut usia atau karena sakit yang menurut pandangan dokter tidak dapat sembuh lagi
4.    Tidak wajib mengqodho’ maupun  membayar Fidyah :
Seperti orang kafir asli (belum pernah islam) yang masuk islam, anak-anak yang belum baligh, orang gila dan sebagainya
Perhatian :
Bagi orang yang meninggal dunia sebelum sempat menyelesaikan  mengqodho’ puasanya atau membayar fidyah, maka keluarga ahli warisnya dianjurkan agar mengqodho’kannya dan apabila meninggalkan harta warisan maka wajib dikeluarkan secukupnya untuk fidyah sebelum di bagikan kepada ahli warisnya.
Demikian pula shalat-shalat yang belum dikerjakan (di i’adah) dengan mengeluarkan fidyah satu mud untuk setiap satu shalat atau di qodho’kan oleh ahli warisnya atau meminta bantuan kepada orang lain dengan memberikan upah yang telah di tentukan, demikian menurut imam As Subukiy, Wallaahu A’lamu bish Shawaab
VIII. Macam-macam Kaffarat (denda) pelanggaran Puasa :
A.    Wajib mengqodho’ Puasa serta membayar Kaffaratul Uzhma 
     (denda yang sangat berat) dan Ta’zir, yaitu bagi orang-orang yang sengaja melakukan jima’ (bersetubuh) pada saat mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, Kaffaratul Uzhma dan Ta’zir tersebut berupa : “Memerdekakan budak mu’minah yang tidak cacat yang menyebabkan tidak dapat bekerja dengan baik, apabila tidak mampu atau tidak menemukan, maka berpuasa 2 bulan berturut-turut selain puasa Qodho’ kecuali pada hari-hari yang terdapat udzur seperti haidh atau nifas, apabila tidak mampu karena sakit atau lainnya, maka memberikan makan (beras) kepada 60 orang fakir / miskin, masing-masing tiap orang fakir / miskin 1 mud ( 1 ons )”
Beberapa hal yang di kecualikan (tidak wajib membayar denda berat)
»        Pelaku Jima’ adalah orang yang sebelumnya sudah batal puasanya terlebih dahulu, jadi batalnya puasa bukan karena jima’
»        Pelaku jima’ adalah orang-orang yang diperbolehkan berbuka puasa di bulan Ramdahan seperti musafir dan sebagainya
»        Karena mempunyai anggapan yang salah misalnya : beranggapan bahwa pada saat jima’ waktunya masih malam padahal sebenarnya waktu imsak sudah tiba atau menganggap puasanya telah batal, padahal sebenarnya tidak, seperti makan atau minum dalam keadaan lupa
B.    Wajib mengqodho’ puasanya setelah bulan Ramadhan serta wajib Imsak pada hari itu
      (Imsak : Menahan diri dari makan dan minum sebagaimana layaknya orang yang berpuasa)

Yaitu bagi orang-orang yang :


1.     Sengaja membatalkan puasanya di bulan Ramadhan misalnya : karena telinganya terasa gatal lalu di korek-korek
2.     Lupa berniat pada malam harinya
3.     Makan sahur dengan anggapan bahwa waktu masih malam (masih waktu sahur) padahal ternyata waktu shubuh
4.     Berbuka puasa dengan anggapan bahwa waktu buka puasa (Maghrib) telah masuk, padahal sebenarnya belum masuk
5.     Orang yang baru tahu bahwa hari yang semula dianggapnya belum masuk bulan Ramadhan ternyata sudah
6.     Orang yang terlanjur menelan air kumur atau istinsyaq (menghirup air ke hidung pada saat akan wudhu atau mandi

IX. Sunnah-sunnah Puasa :
1.     Makan sahur dan mengakhirkannya
2.     Waktu sahur dimulai dari setelah pukul 12.00 malam WIS (waktu Istiwa’)
3.     Segera berbuka puasa apabila waktu sudah di yakini telah Maghrib dan tidak di khawatirkan tertinggal takbirotul Ihram bersama imam
4.     Mengawali berbuka dengan buah Kurma, apabila tidak ada maka cukup dengan seteguk air
5.     Berdo’a setelah Berbuka puasa dan sesudahnya :

Do’a sebelum Berbuka Puasa
يَا عَظِيْمُ     ٣×   اَنْتَ اِلٰهِيْ لَآاِلٰهَ غَيْرُكَ ۝  اِغْفِرْلِي الذَّنْبَ اْلعَظِيْمَ   ۝
فَاِنَّهُ لَايَغْفِرُ الذَّنْبَ اْلعَظِيْمَ اِلَّااَنْتَ  ۝
Do’a sesudah Berbuka Puasa
اَللّٰهُـمَّ لَكَ صُمْتُ  وَبِكَ اٰ مَنْتُ   وَعَلٰى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ   ۝
ذَهَبَ الظَّمَأُ    وَاْبتَلَّتِ اْلعُرُوْقُ    وَثَبَتَ اْلاَ جْرُ إنْ شَآءَ اللّٰهُ     ۝


6.     Mandi dari semacam jinabat sebelum waktu imsak
7.     Berhati-hati terhadap makan yang akan dimakan, agar jangan sampai memakan makanan yang syubhat (yang belum jelas halalnya)
8.     Menahan diri dari segala macam syahwat yang mubah atau makruh seperti suara musik, menonton, wangi-wangian dan sebagainya
9.     Tidak bersiwak atau menggosok gigi setelah datang waktu zawal (Zhuhur), tetapi jika waktu masih pagi (sebelum Zhuhur) justru di sunnahkan menggosok gigi
10.  Memperbanyak sodaqah dan meningkatkan amal baik terutama pada 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan
11.  Memberikan buka puasa kepada orang lain, meskipun hanya dengan seteguk air bagi orang-orang yang tidak mampu
12.  Menjaga lisan dan perbuatan dari yang kurang baik
13.  Apabila ada seseorang yang memaki-maki atau membentak, hendaknya tidak di tanggapinya seraya berkata didalam hati “Maaf saya ini sedang berpuasa”

Keterangan :
Berdusta, membicarakan Aib orang lain, memaki-maki, membentak orang lain (yang tidak dibenarkan) kesemuanya itu memang tidak membatalkan puasa tetapi dapat menghapus pahala puasa artinya tidak wajib di Qodho’

Sabda Rosulullah SAW :
مَنْ لَمْ يَدَعْ  قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ  لِلّٰهِ  حَاجَةٌ فِى اَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa tidak mau meninggalkan perkataan dusta serta perbuatan yang bathil, maka Allah tidak mempedulikan ia meninggalkan makan dan minum (apalagi memberikan pahala)
Wallaahu A’lamu bish Shawaab






Tidak ada komentar:

Posting Komentar