V
الحمد لله الذي جعل رمضان علينا بالصيام ۞ وأنزل فيه القرأن
هدًى ورحمة ونورًا من الظلام ۞ أشهد أن لا إله الا الله وحده لا شريك له ، الملك
القدوس السلام ۞ وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوث الى سائر الامم ۞ اللهم صل
وسلم وبارك على سيدنا وحبيبنا وشفيعنا ومولانا محمد خير الانام ۞ وعلى اله وصحبه
مدى الليالي والأيام ۞ أما بعد ، قال
الله تعالى وهو احكم الحاكمين :
يَآ اَ يُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ
مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
﴿البقرة : ١٨٣﴾
﴿ روى عن سعيد بن المسيب عن سلمان الفارسي رضى الله تعالى عنه
قال : خطبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم اخر يوم من شعبان فقال : ايها الناس إنه
قد اظلكم شهر عظيم مبارك ١- شهر فيه ليلة القدر، وهي خير من الف شهر ٢– شهر فرض
الله صيامه ٣- وجعل قيام ليله تطوّعا فمن
تطوع فيه بخصلة من الخير كان كمن ادى فريضة فيما سواه ، ومن ادى فريضة فيه كمن ادى
سبعين فريضة فيما سواه ٤– وهو شهر الصبر والصبر ثوابه الجنة ٥ - وهو شهر المواساة
٦- و شهر يزاد فيه رزق المؤمن ٥– من فطر فيه صائما كان له عتق رقبة ومغفرة لذنوبه
( قلنا يا رسول الله ليس كلنا يجد ما يفطّر به الصائم ) قال يعطى الله هذه الثواب
لمن يفطربه صائمًا على مذ قة لبن او تمرة او شربة ماء ﴾
I. Puasa ialah :
Menahan diri dari hal-hal
yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari
II. Hukum :
Puasa Ramadhan hukumnya
wajib bagi setiap ummat Islam yang sudah mukallaf kecuali sedang sakit,
bepergian jauh (+ 82 km) atau orang yang sudah lanjut usia
Puasa Ramadhan mulai
disyariatkan / diwajibkan bagi nabi Muhammad SAW dan ummatnya pada bulan
Sya’ban tahun 2 H. sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat :
183 – 187
III. Syarat-syarat sah puasa :
1. Beragama Islam
2. Berakal sehat ( tidak gila, ayan, mabuk dsb )
3. Suci dari haidh, nifas dan semacamnya
4. Mengetahui bahwa hari yang digunakan untuk berpuasa bukanlah hari-hari
yang diharamkan yaitu :
5. Hari yang diragukan (yaumusy syak) yaitu setelah tanggal 29 Sya’ban
sebelum adanya pengumuman rukyat
6. Tanggal 1 Syawwal (Idul Fitri)
7. Tanggal 10 – 13 Dzul Hijjah (Idul Adh-ha dan Tasyriq)
IV. Syarat-syarat wajib puasa :
1. Beragama Islam
2. Mukalllaf (telah baligh dan berakal sehat)
3. Mampu menjalankannya
4. Sehat, tidak sedang sakit
5. Tidak sedang bepergian, kecuali bagi orang yang selalu menempuh
perjalanan terus menerus karena baginya tetap wajib menjalankan puasa dan tidak
ada rukhshoh (keringanan) untuk berbuka
V. Rukun-rukun puasa :
1. Niat Puasa
Niat harus dilakukan setiap
malam bulan Ramadhan sebelum datang waktu fajar kecuali puasa sunnah,
Niat Puasa Ramadhan yang sempurna :
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَآءِ فَرْضِ
شَهْرِرَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ
اِيْمَانًا وَاحْتِساِبًا لِلّٰهِ تَعَالىَ
اِيْمَانًا وَاحْتِساِبًا لِلّٰهِ تَعَالىَ
NAWAITU SHOUMA GHODIN AN ADAA-I FARDHI SYAHRI ROMADHOONI HAADZIHIS
SANATI IMAANAN WAHTISAABAN LILLAAHI TA’ALA
Saya niat
berpuasa esok hari untuk menjalankan fardhu bulan Ramadhan tahun ini dengan
penuh keimanan dan keikhlasan karena Allah ta’aalaa
Keterangan :
Untuk
mengantisipasi adanya kelupaan niat berpuasa Ramadhan pada setiap malam
harinya, kita diperbolehkan mengikuti Madzhab Maliki yang memper-bolehkan niat
puasa Ramadhan “Cukup satu kali niat untuk satu bulan” . Kalimat niat puasa
sebulan penuh :
نَوَيْتُ
صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَآءِ فَرْضِ جَمِيْعِ اَيَّامِ شَهْرِرَمَضَانِ هٰذِهِ
السَّنَةِ
اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا لِلّٰهِ تَعَالىَ
اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا لِلّٰهِ تَعَالىَ
NAWAITU SHOUMA GHODIN ‘AN ADAA-I FARDHI JAMII’I
AYYAAMI
SYAHRI ROMADHOONI HAADZIHIS SANATI IMAANAN
WAHTISAABAN
LILLAAHI
TA’ALA
Saya niat berpuasa besuk untuk
menjalankan fardhu semua hari-hari bulan Ramadhan tahun ini dengan penuh
keimanan dan keikhlasan karena Allah ta’aalaa
Perhatian :
Pada saat berniat puasa Ramadhan sekali untuk sebulan penuh, diwajibkan
pula berniat mengikuti Madzhab yang memperbolehkannya (Imam Malik) dan tidak
boleh asal berniat tanpa mengikuti Imam yang memperbolehkannya
2.
Meninggalkan
hal-hal yang dapat membatalkan puasa dalam
keadaan sadar, tidak dipaksa dan bukan karena tidak megetahui yang tidak
beralasan (tidak tahunya karena Udzur) misalnya penduduk yang tinggalnya
disebuah pulau yang sangat jauh dari Ulama’ (orang yang tahu tentang
hukum-hukum puasa)
3.
Orang yang menjalankan Puasa (Pelaku Puasa)
VI. Hal-hal yang membatalkan puasa :
1. Masuknya segala sesuatu dengan sengaja kedalam rongga badan
Adapun masuknya sesuatu melaului pori-pori kulit badan tidak
membatal-kan puasa, seperti masuknya air karena berendam, mengoleskan
obat-obatan semacam balsem, suntik dan sebagainya
2. Muntah-muntah dengan sengaja
3. Jima’ (bersetubuh)
4. Mengeluarkan spirma karena sentuhan kulit
5. Haidh atau nifas
6. Gila, ayan, mabuk teler dan sebagainya
7. Murtad (keluar dari agama Islam) meskipun hanya sebentar atau hanya
sebatas niat saja untuk pindah
dari agama Islam
VII. Orang-orang yang diperbolehkan berbuka (tidak berpuasa) dibulan
Ramadhan :
1. Wajib mengqodho’ puasanya serta membayar Fidyah
a. Orang yang berbuka karena mengkhawatirkan orang
lain seperti : untuk menyelamatkan jiwa orang lain yang nyaris
tenggelam, seorang ibu hamil atau menyusui yang berbuka karena mengkhawatirkan
kesehatan janin atau anaknya
b. Karena menunda-nunda Qodho’ puasa Ramadhan
tanpa adanya udzur Syar’i hingga datang lagi bulan Ramadhan berikutnya. Setiap
melewati satu kali bulan Ramadhan maka ia wajib menambah satu fidyah ( 1 mud /
6 0ns ) beserta mengqodho’ puasa sesuai bilangan puasa yang ditinggalkannya
Misalnya :
Pada Ramadhan tahun 1420 H. Ahmad tidak berpuasa selama 5 hari sampai
dengan Ramadhan tahun 1430 H. Ahmad belum juga pernah mengqodho’ puasanya,
padahal sebenarnya ia sudah mampu jika ia mau mengerjakanya, maka setelah
Ramadhan ini ia wajib :
a. Mengqodho’ puasanya 5 hari dan
b. Membayar Fidyah 5 Mud x 10 Ramadhan = 50 mud / +
30 kg beras
2.
Hanya wajib mengqodho’ puasa saja yaitu :
a. Orang-orang yang batal puasanya di bulan
Ramadhan serta belum datang bulan Ramadhan berikutnya
b. Seorang ibu hamil atau menyusui yang berbuka
puasa karena meng-khawatirkan dirinya sendiri dan juga anaknya serta tidak di
tunda-tunda hingga datang bulan Ramadhan berikutnya
3.
Hanya wajib mengeluarkan Fidyah saja :
Seperti orang yang telah
lanjut usia atau karena sakit yang menurut pandangan dokter tidak dapat sembuh
lagi
4.
Tidak wajib mengqodho’ maupun membayar Fidyah :
Seperti orang kafir asli (belum pernah islam) yang masuk islam,
anak-anak yang belum baligh, orang gila dan sebagainya
Perhatian :
Bagi orang yang meninggal
dunia sebelum sempat menyelesaikan
mengqodho’ puasanya atau membayar fidyah, maka keluarga ahli warisnya
dianjurkan agar mengqodho’kannya dan apabila meninggalkan harta warisan maka
wajib dikeluarkan secukupnya untuk fidyah sebelum di bagikan kepada ahli
warisnya.
Demikian pula
shalat-shalat yang belum dikerjakan (di i’adah) dengan mengeluarkan fidyah satu
mud untuk setiap satu shalat atau di qodho’kan oleh ahli warisnya atau meminta
bantuan kepada orang lain dengan memberikan upah yang telah di tentukan,
demikian menurut imam As Subukiy, Wallaahu A’lamu bish Shawaab
VIII.
Macam-macam Kaffarat (denda) pelanggaran Puasa :
A.
Wajib mengqodho’ Puasa serta
membayar Kaffaratul Uzhma
(denda yang sangat berat) dan Ta’zir, yaitu bagi orang-orang yang sengaja
melakukan jima’ (bersetubuh) pada saat mengerjakan puasa di bulan Ramadhan,
Kaffaratul Uzhma dan Ta’zir tersebut berupa : “Memerdekakan budak mu’minah yang
tidak cacat yang menyebabkan tidak dapat bekerja dengan baik, apabila tidak
mampu atau tidak menemukan, maka berpuasa 2 bulan berturut-turut selain puasa
Qodho’ kecuali pada hari-hari yang terdapat udzur seperti haidh atau nifas,
apabila tidak mampu karena sakit atau lainnya, maka memberikan makan (beras)
kepada 60 orang fakir / miskin, masing-masing tiap orang fakir / miskin 1 mud (
1 ons )”
Beberapa hal yang di kecualikan (tidak wajib membayar denda
berat)
»
Pelaku Jima’ adalah orang yang sebelumnya sudah batal
puasanya terlebih dahulu, jadi batalnya puasa bukan karena jima’
»
Pelaku jima’ adalah orang-orang yang diperbolehkan berbuka
puasa di bulan Ramdahan seperti musafir dan sebagainya
»
Karena mempunyai anggapan yang salah misalnya : beranggapan
bahwa pada saat jima’ waktunya masih malam padahal sebenarnya waktu imsak sudah
tiba atau menganggap puasanya telah batal, padahal sebenarnya tidak, seperti
makan atau minum dalam keadaan lupa
B. Wajib mengqodho’ puasanya setelah bulan Ramadhan serta wajib
Imsak pada hari itu
(Imsak : Menahan diri dari makan dan
minum sebagaimana layaknya orang yang berpuasa)
Yaitu bagi orang-orang yang :
1. Sengaja membatalkan puasanya di
bulan Ramadhan misalnya : karena telinganya terasa gatal lalu di korek-korek
2. Lupa berniat pada malam harinya
3. Makan sahur dengan anggapan bahwa
waktu masih malam (masih waktu sahur) padahal ternyata waktu shubuh
4. Berbuka puasa dengan anggapan bahwa
waktu buka puasa (Maghrib) telah masuk, padahal sebenarnya belum masuk
5. Orang yang baru tahu bahwa hari yang
semula dianggapnya belum masuk bulan Ramadhan ternyata sudah
6. Orang yang terlanjur menelan air
kumur atau istinsyaq (menghirup air ke hidung pada saat akan wudhu atau mandi
IX. Sunnah-sunnah Puasa :
1. Makan sahur dan mengakhirkannya
2. Waktu sahur dimulai dari setelah
pukul 12.00 malam WIS (waktu Istiwa’)
3. Segera berbuka puasa apabila waktu
sudah di yakini telah Maghrib dan tidak di khawatirkan tertinggal takbirotul
Ihram bersama imam
4. Mengawali berbuka dengan buah Kurma,
apabila tidak ada maka cukup dengan seteguk air
5. Berdo’a setelah Berbuka puasa dan
sesudahnya :
Do’a sebelum Berbuka Puasa
يَا عَظِيْمُ ٣× اَنْتَ
اِلٰهِيْ لَآاِلٰهَ غَيْرُكَ اِغْفِرْلِي
الذَّنْبَ اْلعَظِيْمَ
فَاِنَّهُ لَايَغْفِرُ الذَّنْبَ اْلعَظِيْمَ اِلَّااَنْتَ
Do’a sesudah Berbuka Puasa
اَللّٰهُـمَّ لَكَ صُمْتُ
وَبِكَ اٰ مَنْتُ وَعَلٰى
رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ
ذَهَبَ
الظَّمَأُ وَاْبتَلَّتِ
اْلعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلاَ جْرُ إنْ
شَآءَ اللّٰهُ
6.
Mandi
dari semacam jinabat sebelum waktu imsak
7. Berhati-hati terhadap makan yang
akan dimakan, agar jangan sampai memakan makanan yang syubhat (yang belum jelas
halalnya)
8. Menahan diri dari segala macam
syahwat yang mubah atau makruh seperti suara musik, menonton, wangi-wangian dan
sebagainya
9. Tidak bersiwak atau menggosok gigi
setelah datang waktu zawal (Zhuhur), tetapi jika waktu masih pagi (sebelum
Zhuhur) justru di sunnahkan menggosok gigi
10. Memperbanyak sodaqah dan
meningkatkan amal baik terutama pada 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan
11. Memberikan buka puasa kepada orang
lain, meskipun hanya dengan seteguk air bagi orang-orang yang tidak mampu
12. Menjaga lisan dan perbuatan dari
yang kurang baik
13. Apabila ada seseorang yang
memaki-maki atau membentak, hendaknya tidak di tanggapinya seraya berkata
didalam hati “Maaf saya ini sedang berpuasa”
Keterangan :
Berdusta, membicarakan Aib orang
lain, memaki-maki, membentak orang lain (yang tidak dibenarkan) kesemuanya itu
memang tidak membatalkan puasa tetapi dapat menghapus pahala puasa artinya
tidak wajib di Qodho’
Sabda Rosulullah SAW :
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ
فَلَيْسَ لِلّٰهِ حَاجَةٌ فِى اَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa
tidak mau meninggalkan perkataan dusta serta perbuatan yang bathil, maka Allah
tidak mempedulikan ia meninggalkan makan dan minum (apalagi memberikan pahala)
Wallaahu
A’lamu bish Shawaab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar