Contoh Muqaddimah dalam memberikan
sambutan
السَّلَامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهْ- وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَ رَحْمَةُ اللهِ
وَبَرَكَاتُهْ
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ ،
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ ، اَللَّهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ابْنِ عَبْدِ الله ، وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ ، أَمَّا بَعْدُ :
قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : ٱدْعُ إِلِى سَبِيلِ
رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۞ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ
أَحْسَنُ ۞ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ
أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ۞
Ajaklah (mereka) ke jalan Tuhanmu dengan
cara HIKMAH (bijaksana), dan dengan tutur kata YANG BAIK, dan ajaklah
mereka berdialog dengan cara YANG BAIK. (Karena) Sesungguhnya
Tuhanmu itu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari
jalan-Nya dan Dialah (Allah) yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat
petunjuk. (QS. [16] An Nahl : 125)
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ
كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ ۞ فَاعْفُ عَنْهُمْ ۞
وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ ۞ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ ۞ فَإِذَا عَزَمْتَ
فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ ۞ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ ۞
Maka
sebab rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras, berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri
dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi
mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam suatu urusan. Apabila kamu
mempunyai rencana, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. QS. Ali Imran : 159
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ
لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ،
وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً ﴿الاحزاب : ٧١﴾
Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kamu kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar, niscaya
Allah memperbaiki bagimu, amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu.
Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah
mendapat kemenangan yang besar. QS. Ali Imran : 159
Penutup
Majelis / Kaffaratul Majelis :
سُبْحَانَكَ
اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ
وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Penutup
Sambutan :
وَاللهُ الْمُوَفِّقْ إِلَى أَقْوَمِ
الطَّرِيْقِ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ
اللهِ وَبَرَكَاتُهْ - وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ
Keterangan
terkait dengan Khithobah :
- Sebelum berkhithobah (ber-ceramah/sambutan) sebaiknya memberikan salam terlebih dahulu, lalu membaca Hamdalah dan shalawat salam kepada nabi SAW
- Dalam membaca salam tidak didahului pembicaraan apapun (termasuk membaca Basmallah), Imam Nawawi rahimahullah dalam sebuah kitabnya beliau menjelaskan :
(فَصْلٌ) السُّنَّةُ أَنَّ الْمُسْلِمَ
يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ قَبْلَ كُلِّ كَلاَمٍ ِلأَنَّهُ تَحِيَّةٌ يَبْدَأُ بِهِ
فَيَفُوْتُ بِاْلإِفْتِتَاحِ
بِالْكَلاَمِ كَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ
Sunnahnya, orang memberi salam itu memulainya
sebelum bicara apa-apa, karena salam adalah penghormatan yang dibuat permulaan.
Maka kesunnahannya akan hilang jika sudah dimulai dengan bicara dahulu. Seperti
sunahnya shalat tahiyyatul masjid, (disunnahkan sebelum melakukan apa-apa)
Al-Adzkar An-Nawawi I/168
Bahkan
tidak disunahkan membaca ‘basmalah’ sebelum salam, karena salam itu sebagian
dari perkara yang tidak dijalankan dengan membaca bismillah. Jika membaca
bismillah, maka putuslah kesunatan salam serta kewajiban menjawab salam
Imam
Al Ghozali rahimahullah dalam sebuah kitab Ihya’nya beliau menjelaskan :
وَمِنْهَا أَنْ يَبْدَأَ كُلُّ مُسْلِمٍ
مِنْهُمْ بِالسَّلَامِ قَبْلَ اْلكَلَامِ وَيُصَافَحَهُ عِنْدَ السَّلَامِ قَالَ
النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مَنْ بَدَأَ بِالْكَلَامِ قَبْلَ السَّلَامِ فَلَا تُجِيْبُوْهُ
حَتَّى يَبْدَأَ بِالسَّلَامِ .اهـ
Sebagian Haq muslim atas muslim lainnya
adalah memulai salam sebelum pembicaraan, berjabat tangan saat salam, Nabi
Muhammad bersabda “Barangsiapa memulai pembicaraan sebelum salam maka tidak
usah dijawab hingga ia memulainya dengan salam terlebih dahulu” (HR. Thobaroni
dan Abu Na’im) Ihyaa’ Uluumiddin II/200
Tidak ‘setiap perkara’ yang baik, harus
di mulai dengan Basmallah :
ومعنى ذى بال أى صاحب حال بحيث يهتم
به شرعًا أى بأن لا يكون من سفاسف الأمور وليس محرما ولا مكروها ، ويشترط أيضا أن
لا يكون ذكرا محضا ولا جعل الشارع له مبدأ غير البسملة والحمدلة ، وخرج ما جعل
الشارع له مبدأ غير البسملة والحمدلة كالصلاة فلا يبدؤ بالبسملة ولا بالحمدلة بل
بالتكبير مثلا.اهـ
Yang dimaksud ‘setiap perkara’ ‘yang
mengandung kebaikan’ adalah :
·
Setiap
keadaan yang oleh syara’ dipandang penting untuk diawali dengan bismillah,
bukan perkara yang terlalu kecil (hal sepele), bukan hal yang haram bukan pula
hal yang makruh.
·
Disyaratkan
pula bukan berupa dzikir murni dan bukan hal yang oleh syara’ ditetapkan
keberadaannya dengan selain basmalah dan hamdalah seperti shalat yang oleh
syara’ telah ditetapkan tidak diawali dengan basmalah dan hamdalah tapi
awalilah dengan takbir. Tuhfah al-Muriid
hal. 3
Wallohu A’lamu bish shawaab
- Ucapan salam dan Jawabannya :
Apabila
kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan
yang lebih baik, atau (setidaknya) balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya
Allah memperhitungkan segala sesuatu. QS. [4] Annisa : 86
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ - وَعَلَيْكُمُ
السَّلاَمُ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ
- Ucapan Insya Allah :
Dalam
setiap pembicaraan tak jarang seseorang mengucapkan kata ‘Insya Allah’
sebagaimana perintah dalam Surat Al Kahfi : 23-24
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَداً ﴿٢٣﴾ إِلَّا أَن يَشَاءَ ...... ﴿٢٤﴾
Dan jangan
sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: "Sesungguhnya aku akan
mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya-Allah" Namun
terkadang dalam penulisannya yang tidak tepat, maka artinyapun tidak sesuai
yang di harapkan, perhatikan tulisan ‘insya Allah’ dalam huruf Arab :
إِنْ
شَاءَ اللَّهُ = In-sya Allah 4
إِنْشَاءَ
اللَّهُ = Insya
Allah إِنْسَاءَ
اللَّهُ = Insya
Allah 8
Sebagaimana ayat :
إِنَّاأَنشَأْنَاهُنَّ
إِنشَاءً : Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (QS. Al Waqiah : 35)
Kecuali jika
di tulis dengan selain huruf Arab, maka mengikuti ejaan yang berlaku,
Dalam ejaan Indonesia “Insya”
ejaan Inggris “Insha”
- Menutup Majelis dengan Dzikir dan Shalawat :
Sabda Nabi saw :
مَا قَعَدَ قَوْمُ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرُونَ
اللهَ فِيهِ وَلَمْ يُصَلُّوْا عَلَى النَّبِيِّ اِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً
يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه الترمذي وقال حسن)
“Tiada suatu golonganpun yang duduk
menghadiri suatu majelis tapi mereka disana tidak dzikir pada Allah swt. dan
tak mengucapkan shalawat atas Nabi saw, kecuali mereka akan mendapat kekecewaan
di hari kiamat”
مَامِنْ
قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ فِيْهِ إِلاَّ قَامُوْا
عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ
وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً
“Setiap
kaum yang bangkit dari majelis yang tidak ada dzikir pada Allah, maka
selesainya majelis itu seperti bangkai keledai dan hanya menjadi penyesalan
pada hari kiamat.”
(HR. Abu Daud, no. 4855; Ahmad, 2:389. Al-Hafizh
Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih),
Wallaahu A’lamu bis shawaab, Semoga bermanfaat
2. JANGAN
MENGKAFIRKAN (TAKFIR) !!!
Maraknya media sosial dan internet
ternyata ada sebagian orang yang menjadikannya sebagai ajang untuk menuduh
saudara muslim sebagai kafir, musyrik, bid’ah dan sebagainya (sudah keluar dari
Islam). Padahal menuduh saudara muslim dengan kalimat kafir merupakan musibah
besar bagi pelakunya. Karena tuduhan tersebut akan kembali kepada penuduhnya
sendiri. Naudzubillah..
Munculnya pemboman, teror, dan
pembunuhan adalah hasil dari mengkafirkan,
Karena orang kafir menurut mereka halal darah
dan hartanya, sehingga islam terkesan sebagai agama teroris yang tidak mengenal
kasih sayang. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah
memperingatkan bahaya mengkafirkan seorang muslim, beliau bersabda :
أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لِأَخِيْهِ : يَا كَافِرَ
فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلاَّ رَجَعَتْ
عَلَيْهِ
“Siapa saja yang berkata kepada saudaranya,”Hai Kafir” Maka akan kembali
pada salah satunya, jika yang divonisnya itu benar (maka sudah jelas), dan jika tidak maka akan kembali kepada (orang
yang mengucapkan)nya.” (HR Bukari dan Muslim),
Sabda Rasulullah Saw:
عَنْ
أَبِي ذَرٍّ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ لاَ يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلاً بِالْفُسُوقِ وَلاَ
يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ إِلاَّ ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ
كَذَلِكَ (رواه البخاري رقم 5585(
“Tidaklah seseorang menuduh kepada
orang lain dengan kefasikan (dosa besar) atau dengan kekufuran, kecuali tuduhan
itu kembali akan kepada si penuduh, jika yang dituduh tidak sesuai dengan
tuduhannya” (HR al-Bukhari No 5585 dari Abu Dzarr),
Rasulullah Saw juga bersabda tentang
tuduhan syirik :
قَالَ
رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ مَا أَتَخَوَّفُ عَلَيْكُمْ رَجُلٌ
قَرَأَ الْقُرْآنَ حَتَّى إِذَا رُئِيَتْ بَهْجَتُهُ عَلَيْهِ وَكَانَ رِدْئًا
لِلإِسْلاَمِ غَيَّرَهُ إِلَى مَا شَاءَ اللهُ فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَنَبَذَهُ
وَرَاءَ ظَهْرِهِ وَسَعَى عَلَى جَارِهِ بِالسَّيْفِ وَرَمَاهُ بِالشِّرْكِ قَالَ
قُلْتُ يَانَبِيَّ اللهِ أَيُّهُمَا أَوْلَى بِالشِّرْكِ الْمَرْمِيُّ أَمِ
الرَّامِي؟ قَالَ بَلِ الرَّامِي (رواه ابن حبان رقم 81 عن حذيفة(
“Sungguh yang paling Aku takutkan bagi
kalian adalah seseoarang yang membaca al-Quran, sehingga ketika keagungannya
terlihat pada dirinya dan ia membela Islam, maka ia merubahnya sesuai yang
dikehendaki Allah. Kemudian ia menggantinya dan melemparkannya ke belakangnya,
dan ia berjalan di depan tetangganya dengan membawa pedang dan menuduhnya
dengan kesyirikan. Hudzaifah bertanya: Wahai Nabi, siapakah dari keduanya yang
lebih layak dengan syirik, orang yang dituduh atau penuduh? Rasulullah
menjawab: Yaitu penuduh tersebut” (HR Ibnu Hibban No 81 dari Hudzaifah),
Semoga bermanfaat
Kumpulan Contoh Muqaddimah
السَّلَامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهْ
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا
بِنِعْمَةِ اْلإِيْمَانِ وَاْلإِسْلاَمِ ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى
سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ اْلأَنَامِ ، وَعَلَى اَلِهِ وَأَصَحَابِهِ
اِلَى يَوْمِ الزِّحَامْ ، أَمَّا بَعْدُ :
السَّلَامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهْ
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ ،
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ ، اَللَّهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ابْنِ عَبْدِ الله ، وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ ،
أَمَّا
بَعْدُ :
السَّلَامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهْ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا
وَالدِّيْنِ ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى إِمَامِ اْلأَنْبِيَاءِ وَ أَشْرَفِ
الْمُرْسَلِيْنَ ، سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَالتَّابِعِيْنَ ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ
الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ :
السَّلَامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهْ
اَلْحَمْدُ
لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ
الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ ،
وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ :