Kamis, 24 Agustus 2017

Contoh Sambutan


Contoh Muqaddimah dalam memberikan sambutan

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهْ-  وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ابْنِ عَبْدِ الله ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ ، أَمَّا بَعْدُ :
قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : ٱدْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۞ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۞ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ۞
Ajaklah (mereka) ke jalan Tuhanmu dengan cara HIKMAH (bijaksana), dan dengan tutur kata YANG BAIK, dan ajaklah mereka berdialog dengan cara YANG BAIK. (Karena) Sesungguhnya Tuhanmu itu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah (Allah) yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.  (QS. [16] An Nahl : 125)
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ ۞ فَاعْفُ عَنْهُمْ ۞ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ ۞ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ ۞ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ ۞ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ ۞
Maka sebab rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras, berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam suatu urusan. Apabila kamu mempunyai rencana, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. QS. Ali Imran : 159
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ،
وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً ۝ ﴿الاحزاب : ٧١﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu, amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. QS. Ali Imran : 159

Penutup Majelis / Kaffaratul Majelis :
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ۝

Penutup Sambutan :
وَاللهُ الْمُوَفِّقْ إِلَى أَقْوَمِ الطَّرِيْقِ۝
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ  -  وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ


Keterangan terkait dengan Khithobah :

  • Sebelum berkhithobah (ber-ceramah/sambutan) sebaiknya memberikan salam terlebih dahulu, lalu membaca Hamdalah dan shalawat salam kepada nabi SAW

  • Dalam membaca salam tidak didahului pembicaraan apapun (termasuk membaca Basmallah), Imam Nawawi rahimahullah dalam sebuah kitabnya beliau menjelaskan :


(فَصْلٌ) السُّنَّةُ أَنَّ الْمُسْلِمَ يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ قَبْلَ كُلِّ كَلاَمٍ ِلأَنَّهُ تَحِيَّةٌ يَبْدَأُ بِهِ
فَيَفُوْتُ بِاْلإِفْتِتَاحِ بِالْكَلاَمِ كَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ

Sunnahnya, orang memberi salam itu memulainya sebelum bicara apa-apa, karena salam adalah penghormatan yang dibuat permulaan. Maka kesunnahannya akan hilang jika sudah dimulai dengan bicara dahulu. Seperti sunahnya shalat tahiyyatul masjid, (disunnahkan sebelum melakukan apa-apa) Al-Adzkar An-Nawawi I/168

Bahkan tidak disunahkan membaca ‘basmalah’ sebelum salam, karena salam itu sebagian dari perkara yang tidak dijalankan dengan membaca bismillah. Jika membaca bismillah, maka putuslah kesunatan salam serta kewajiban menjawab salam
Imam Al Ghozali rahimahullah dalam sebuah kitab Ihya’nya beliau menjelaskan :

وَمِنْهَا أَنْ يَبْدَأَ كُلُّ مُسْلِمٍ مِنْهُمْ بِالسَّلَامِ قَبْلَ اْلكَلَامِ وَيُصَافَحَهُ عِنْدَ السَّلَامِ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مَنْ بَدَأَ بِالْكَلَامِ قَبْلَ السَّلَامِ فَلَا تُجِيْبُوْهُ حَتَّى يَبْدَأَ بِالسَّلَامِ .اهـ

Sebagian Haq muslim atas muslim lainnya adalah memulai salam sebelum pembicaraan, berjabat tangan saat salam, Nabi Muhammad bersabda “Barangsiapa memulai pembicaraan sebelum salam maka tidak usah dijawab hingga ia memulainya dengan salam terlebih dahulu” (HR. Thobaroni dan Abu Na’im) Ihyaa’ Uluumiddin II/200

Tidak ‘setiap perkara’ yang baik, harus di mulai dengan Basmallah :

ومعنى ذى بال أى صاحب حال بحيث يهتم به شرعًا أى بأن لا يكون من سفاسف الأمور وليس محرما ولا مكروها ، ويشترط أيضا أن لا يكون ذكرا محضا ولا جعل الشارع له مبدأ غير البسملة والحمدلة ، وخرج ما جعل الشارع له مبدأ غير البسملة والحمدلة كالصلاة فلا يبدؤ بالبسملة ولا بالحمدلة بل بالتكبير مثلا.اهـ
Yang dimaksud ‘setiap perkara’ ‘yang mengandung kebaikan’ adalah :
·         Setiap keadaan yang oleh syara’ dipandang penting untuk diawali dengan bismillah, bukan perkara yang terlalu kecil (hal sepele), bukan hal yang haram bukan pula hal yang makruh.
·         Disyaratkan pula bukan berupa dzikir murni dan bukan hal yang oleh syara’ ditetapkan keberadaannya dengan selain basmalah dan hamdalah seperti shalat yang oleh syara’ telah ditetapkan tidak diawali dengan basmalah dan hamdalah tapi awalilah dengan takbir.  Tuhfah al-Muriid hal. 3

Wallohu A’lamu bish shawaab


  •        Ucapan salam dan Jawabannya :

Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau (setidaknya) balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. QS. [4] Annisa : 86
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ  -  وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ
  •        Ucapan Insya Allah :

Dalam setiap pembicaraan tak jarang seseorang mengucapkan kata ‘Insya Allah’ sebagaimana perintah dalam Surat Al Kahfi : 23-24
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَداً ﴿٢٣﴾ إِلَّا أَن يَشَاءَ ...... ﴿٢٤﴾

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya-Allah" Namun terkadang dalam penulisannya yang tidak tepat, maka artinyapun tidak sesuai yang di harapkan, perhatikan tulisan ‘insya Allah’ dalam huruf Arab :
إِنْ شَاءَ اللَّهُ   = In-sya Allah 4
إِنْشَاءَ اللَّهُ   = Insya Allah                 إِنْسَاءَ اللَّهُ   = Insya Allah  8
Sebagaimana ayat :
إِنَّاأَنشَأْنَاهُنَّ إِنشَاءً    : Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (QS. Al Waqiah : 35)
Kecuali jika di tulis dengan selain huruf Arab, maka mengikuti ejaan yang berlaku,
Dalam ejaan Indonesia “Insya” ejaan Inggris “Insha”

  • Menutup Majelis dengan Dzikir dan Shalawat :

Sabda Nabi saw :
مَا قَعَدَ قَوْمُ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرُونَ اللهَ فِيهِ وَلَمْ يُصَلُّوْا عَلَى النَّبِيِّ اِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه الترمذي وقال حسن)
“Tiada suatu golonganpun yang duduk menghadiri suatu majelis tapi mereka disana tidak dzikir pada Allah swt. dan tak mengucapkan shalawat atas Nabi saw, kecuali mereka akan mendapat kekecewaan di hari kiamat”

مَامِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ فِيْهِ إِلاَّ قَامُوْا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ 
وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً
Setiap kaum yang bangkit dari majelis yang tidak ada dzikir pada Allah, maka selesainya majelis itu seperti bangkai keledai dan hanya menjadi penyesalan pada hari kiamat.
(HR. Abu Daud, no. 4855; Ahmad, 2:389. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih),
Wallaahu A’lamu bis shawaab,  Semoga bermanfaat

2.     JANGAN MENGKAFIRKAN (TAKFIR) !!!

Maraknya media sosial dan internet ternyata ada sebagian orang yang menjadikannya sebagai ajang untuk menuduh saudara muslim sebagai kafir, musyrik, bid’ah dan sebagainya (sudah keluar dari Islam). Padahal menuduh saudara muslim dengan kalimat kafir merupakan musibah besar bagi pelakunya. Karena tuduhan tersebut akan kembali kepada penuduhnya sendiri. Naudzubillah..

Munculnya pemboman, teror, dan pembunuhan adalah hasil dari mengkafirkan,

Karena orang kafir menurut mereka halal darah dan hartanya, sehingga islam terkesan sebagai agama teroris yang tidak mengenal kasih sayang. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan bahaya mengkafirkan seorang muslim, beliau bersabda :

أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لِأَخِيْهِ : يَا كَافِرَ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ

“Siapa saja yang berkata kepada saudaranya,”Hai Kafir” Maka akan kembali pada salah satunya, jika yang divonisnya itu benar (maka sudah jelas), dan jika tidak maka akan kembali kepada (orang yang mengucapkan)nya.” (HR Bukari dan Muslim),

Sabda Rasulullah Saw:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ لاَ يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلاً بِالْفُسُوقِ وَلاَ يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ إِلاَّ ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ (رواه البخاري رقم 5585(

“Tidaklah seseorang menuduh kepada orang lain dengan kefasikan (dosa besar) atau dengan kekufuran, kecuali tuduhan itu kembali akan kepada si penuduh, jika yang dituduh tidak sesuai dengan tuduhannya” (HR al-Bukhari No 5585 dari Abu Dzarr),

Rasulullah Saw juga bersabda tentang tuduhan syirik :

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ مَا أَتَخَوَّفُ عَلَيْكُمْ رَجُلٌ قَرَأَ الْقُرْآنَ حَتَّى إِذَا رُئِيَتْ بَهْجَتُهُ عَلَيْهِ وَكَانَ رِدْئًا لِلإِسْلاَمِ غَيَّرَهُ إِلَى مَا شَاءَ اللهُ فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَنَبَذَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ وَسَعَى عَلَى جَارِهِ بِالسَّيْفِ وَرَمَاهُ بِالشِّرْكِ قَالَ قُلْتُ يَانَبِيَّ اللهِ أَيُّهُمَا أَوْلَى بِالشِّرْكِ الْمَرْمِيُّ أَمِ الرَّامِي؟ قَالَ بَلِ الرَّامِي (رواه ابن حبان رقم 81 عن حذيفة(

“Sungguh yang paling Aku takutkan bagi kalian adalah seseoarang yang membaca al-Quran, sehingga ketika keagungannya terlihat pada dirinya dan ia membela Islam, maka ia merubahnya sesuai yang dikehendaki Allah. Kemudian ia menggantinya dan melemparkannya ke belakangnya, dan ia berjalan di depan tetangganya dengan membawa pedang dan menuduhnya dengan kesyirikan. Hudzaifah bertanya: Wahai Nabi, siapakah dari keduanya yang lebih layak dengan syirik, orang yang dituduh atau penuduh? Rasulullah menjawab: Yaitu penuduh tersebut” (HR Ibnu Hibban No 81 dari Hudzaifah),
Semoga bermanfaat

Kumpulan Contoh Muqaddimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهْ
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ اْلإِيْمَانِ وَاْلإِسْلاَمِ ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ اْلأَنَامِ ، وَعَلَى اَلِهِ وَأَصَحَابِهِ اِلَى يَوْمِ الزِّحَامْ ، أَمَّا بَعْدُ :

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهْ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ابْنِ عَبْدِ الله ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ ،
أَمَّا بَعْدُ :

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهْ
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى إِمَامِ اْلأَنْبِيَاءِ وَ أَشْرَفِ الْمُرْسَلِيْنَ ، سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ :

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهْ
اَلْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ :


Selasa, 22 Agustus 2017

Contoh contoh Muqaddimah


Kumpulan Contoh Muqaddimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهْ
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ اْلإِيْمَانِ وَاْلإِسْلاَمِ ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ اْلأَنَامِ ، وَعَلَى اَلِهِ وَأَصَحَابِهِ اِلَى يَوْمِ الزِّحَامْ ، أَمَّا بَعْدُ :

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهْ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ابْنِ عَبْدِ الله ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ ،
أَمَّا بَعْدُ :

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهْ
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى إِمَامِ اْلأَنْبِيَاءِ وَ أَشْرَفِ الْمُرْسَلِيْنَ ، سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ :

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهْ
اَلْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ :


TATACA BERKHITHOBAH :

1.     Sebelum berkhithobah (ber-ceramah/sambutan) sebaiknya memberikan salam terlebih dahulu, lalu membaca Hamdalah dan shalawat salam kepada nabi SAW

2.      Dalam membaca salam tidak didahului pembicaraan apapun (termasuk membaca Basmallah),

Imam Nawawi rahimahullah dalam sebuah kitabnya beliau menjelaskan :
(فَصْلٌ) السُّنَّةُ أَنَّ الْمُسْلِمَ يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ قَبْلَ كُلِّ كَلاَمٍ ِلأَنَّهُ تَحِيَّةٌ يَبْدَأُ بِهِ
فَيَفُوْتُ بِاْلإِفْتِتَاحِ بِالْكَلاَمِ كَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ

Sunnahnya, orang memberi salam itu memulainya sebelum bicara apa-apa, karena salam adalah penghormatan yang dibuat permulaan. Maka kesunnahannya akan hilang jika sudah dimulai dengan bicara dahulu. Seperti sunahnya shalat tahiyyatul masjid, (disunnahkan sebelum melakukan apa-apa) Al-Adzkar An-Nawawi I/168

Bahkan tidak disunahkan membaca ‘basmalah’ sebelum salam, karena salam itu sebagian dari perkara yang tidak dijalankan dengan membaca bismillah. Jika membaca bismillah, maka putuslah kesunatan salam serta kewajiban menjawab salam

Keterangan antara lain :

ومنها أن يبدأ كل مسلم منهم بالسلام قبل الكلام ويصافحه عند السلام
قال النبى صم من بدأ بالكلام قبل السلام فلا تجيبوه حتى يبدأ بالسلام .اهـ

Sebagian kewajiban muslim atas muslim lainnya adalah memulai salam sebelum pembicaraan, berjabat tangan saat salam, Nabi Muhammad bersabda “Barangsiapa memulai pembicaraan sebelum salam maka tidak usah dijawab hingga ia memulainya dengan salam terlebih dahulu” (HR. Thobaroni dan Abu Na’im) Ihyaa’ Uluumiddin II/200

3.      Bukankah ‘setiap perkara’ yang baik, seharusnya di mulai dengan Basmallah ?

والمراد بالأمر ما يعم القول كالقرأة والفعل كالتأليف ، ومعنى ذى بال أى صاحب حال بحيث يهتم به شرعًا أى بأن لا يكون من سفاسف الأمور وليس محرما ولا مكروها ، ويشترط أيضا أن لا يكون ذكرا محضا ولا جعل الشارع له مبدأ غير البسملة والحمدلة ، وخرج ما جعل الشارع له مبدأ غير البسملة والحمدلة كالصلاة فلا يبدؤ بالبسملة ولا بالحمدلة بل بالتكبير مثلا.اهـ

Yang dimaksud ‘setiap perkara’ (dalam hadits tersebut) mencakup semua jenis ucapan seperti bacaan dan semua jenis perbuatan seperti mengarang (kitab).

·         Yang dimaksud kalimat ‘yang mengandung kebaikan’ adalah setiap keadaan yang oleh syara’ dipandang penting untuk diawali dengan bismillah, bukan perkara yang terlalu kecil (hal sepele), bukan hal yang haram bukan pula hal yang makruh.
·         Disyaratkan pula bukan berupa dzikir murni dan bukan hal yang oleh syara’ ditetapkan keberadaannya dengan selain basmalah dan hamdalah seperti shalat yang oleh syara’ telah ditetapkan tidak diawali dengan basmalah dan hamdalah tapi awalilah dengan takbir. Tuhfah al-Muriid hal. 3


4.      Ucapan salam dan Jawabannya :
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ  -  

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ 

Wallaahu A’lamu nis shawaab